Senyuman Asih

S O N I 8:40 AM


Tengah malam menjelang fajar, terdengar kebisingan dan itu mengganggu tidurku.

Dug...dug...dug... "Kas...kasino...bangun kas..."

Dug...dug...dug... "Kas...kasino...bangun kas..." ibuku teriak-teriak sambil menggedor pintu kamarku. sedang berusaha membangunkanku.

Aku bangkit dari kasur. Badanku terasa berat. Aku membuka pintu kamar. Terlihat wajah ibuku tampak gelisah. "Ada apa buk?..."

"Asih meninggal!!!...bunuh diri di dalam kamar mandi!!!..."
"Jangan diam saja!...segera cuci muka, langsung kerumah asih...bantu bantu kesana, bapakmu sudah duluan..."

Kepalaku pusing. Aku masih tidak percaya apa yang terjadi. Ini adalah tepat satu minggu setelah pernikahan Asih dengan Doyok Bendrat. Aku ingat semalam nomer Asih melakukan beberapa panggilan telepon ke hapeku, namun aku tidak menjawabnya. Aku mematikan hape, kemudian tidur.

*****

Asih adalah tetanggaku, dia teman kecilku meskipun dulu kami tidak akrab. Usia Asih lebih tua dariku, selisih dua tahun. Dia sebenarnya seorang yang linglung, pendiam, berwajah sendu penuh kepedihan, susah bergaul, dan teman-temannya sering mengganggunya, serta sebenarnya aku juga tidak peduli.

Kata Ibuku yang menjadi Guru SD di Desa kami, Asih sering tidak masuk sekolah, nilainya juga jelek. Ketika kelas 5 SD, aku dan Asih menjadi teman sekelas. Asih sudah pernah tidak naik kelas dua kali, tapi sebenarnya aku tidak terlalu peduli.

Di kelas Asih sering diganggu teman-teman, dilempari gumpalan kertas, rambutnya ditaburi potongan kertas dan rautan pensil, ketika menulis tangannya dihentak hingga tulisannya tercoret. Hal ini lama-lama mengganggu pikiranku, meskipun sebenarnya aku tidak peduli.

Sebelumnya tempat dudukku berada paling depan sebelah kiri, namun aku memutuskan pindah tepat di belakang tempat duduk Asih. Aku berusaha menghalangi teman-teman yang ingin mengganggu Asih. Suatu saat Asih menoleh ke arahku dengan wajah sendunya, dengan spontan tanpa berfikir aku nyeletuk "Asih...tersenyumlah..." kemudian Asih membalas dengan senyumnya, entah kenapa ketika Asih tersenyum aku juga ikut tersenyum. Sejak saat itu Asih mulai terus tersenyum. Ya terserah saja, toh aku tidak peduli.

Waktu pendaftaran masuk SMP bapak dan ibuku mendaftarkanku ke Kota, namun setelah tahu Asih masuk SMP kecamatan, aku merengek untuk pindah ke SMP kecamatan dengan alasan biar lebih dekat rumah. Dengan kami satu sekolah aku bisa terus mengawasinya, padahal aku tidak menyukainya. Ah...sial, seharusnya aku tak peduli.

Di SMP aku perhatikan Asih masih selalu tersenyum, sudah tidak ada lagi yang mengganggunya di sekolah. Saat SMP inilah ia mengenal Doyok Bendrat pemuda desa yang sekarang mendapat predikat preman penguasa desa setelah dalam acara dangdut koplo mengahajar preman sebelumnya Dono Dongkrak hingga tersungkur ke tanah sampai-sampai tidak bisa bangun lagi.
Aku terkejut ketika mendengar Asih berpacaran dengan Doyok Bendrat, sebenarnya aku tak peduli.

Suatu ketika aku memergoki Doyok sedang menampar pipi Asih. Tanpa berfikir panjang. Tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi kepadaku, aku memukul Doyok Bendrat hingga terkapar di lantai, namun sebaliknya justru Asih malah marah-marah kepadaku, teriak-teriak kenapa aku memukul Doyok, dia bilang dia mencintai Doyok, dia bisa mengatasi masalahnya sendiri, Asih menyuruhku pergi kemudian di akhiri dengan senyumannya yang terlihat palsu, senyum penuh kepedihan didalamnya.

Semenjak kejadian itu aku mulai membenci senyumnya yang palsu itu dan lama tak pernah lagi bertemu dengannya.

Aku sudah tidak ingin memikirkannya lagi. Aku membenci wajahnya apalagi senyumnya. Perlahan-lahan ia menghilang dari ingatanku. Aku mulai menyibukkan diri dengan sekolah hingga masuk ke perkuliahan.

Dua minggu yang lalu, Asih datang kerumah untuk menyampaikan surat undangan pernikahannya dengan Doyok Bendrat. Tentu saja dia tersenyum kepadaku. Aku membenci senyum itu dan tentu saja aku tidak peduli.

Aku memutuskan tidak akan datang ke pernikahannya. Karena aku tahu disana, Asih bakal tersenyum sepanjang hari di atas panggung pengantin, dan itu membuatku muak.

*****

"Kas...kasino...ambilkan air mineral gelas untuk santri yasin tahlil, disamping almari bufet"

"Nggih...Pak Dhe..."

Aku pergi menuju almari bufet untuk mengambil air mineral, namun mataku tertuju pada album foto pernikahan Asih. Rasa penasaranku tak terbendung untuk membuka album itu.

Aku membuka album itu. Membolak-balik berkali-kali. Ada yang mengganjal. Kepalaku pusing. Dadaku terasa perih.

Ini adalah untuk pertama kalinya semenjak SD melihat Asih kembali menjadi dirinya sendiri, sudah lama aku tidak melihat ekspresi wajah Asih seperti itu. Seorang yang linglung, pendiam, penuh kepedihan, sendu, serta tidak ada senyum diwajahnya.

"Aku tidak peduli..."

"Ya...benar..."

"Aku hanya berusaha untuk tidak peduli..."

"Sial...kenapa otak ini tak mau berhenti memikirkan..."

"Apa yang sebenarnya Asih sedihkan?..."


Artikel Terkait

Previous
Next Post »