Review Beberapa Software Gratis Pengganti Microsoft Office

S O N I 8:50 PM 0



Sudah beberapa bulan kemarin saya memutuskan meninggalkan Microsoft Office dan mulai mencari software perkantoran gratis sebagai gantinya. sebenarnya sudah sejak beberapa tahun terakhir ini saya sering memikirkan efek dari penggunaan software komersil secara ilegal dilihat dari sisi hukum yang merupakan sebuah pelanggaran hak cipta, dari sisi spiritual yang memang dalam agama yang saya anut melarang untuk mencuri hak orang lain, dari keyakinan tersebut dan kesadaran secara pribadi akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan segala perangkat lunak komersil ilegal dan mencari alternatif lain yang ternyata di luar sana sudah banyak tersedia perangkat lunak pengganti yang tak kalah powerful jika dibandingkan dengan software berbayar.

berikut beberapa perangkat lunak perkantoran yang sudah saya uji coba:

1. LibreOffice
perangkat lunak ini berasal dari kata Libre dalam bahasa spanyol berarti bebas dan Office dalam bahasa inggris berarti kantor, sebelumnya perangkat ini bernama OpenOffice yang dikembangkan oleh StarDivision kemudian akhirnya pengembangan OpenOffice dilanjutkan oleh perusahaan Apache, kemudian StarDivision mengembangkan lagi perangkat bernama LibreOffice, jadi sebenarnya dua software ini adalah bersaudara.
kelebihannya untuk melakukan pekerjaan perkantoran sangat powerful, dan memiliki kompatibilitas yang tinggi terhadap dokumen yang dihasilkan oleh MicrosoftOffice. kekurangannya software ini agak berat jika membuka dokumen dari Ms.Office.
komponen aplikasi yang terdapat didalam software ini terdiri dari:

Writer Document yang mirip dan digunakan sebagai pengganti Microsoft Words

Calc Spreadsheet sebagai pengganti Microsoft Excel

Impress Presentation digunakan sebagai pengganti Microsoft PowerPoint

Draw Drawing berfungsi sebagai pengganti Microsoft Visio

Math Formula digunakan untuk menyunting pekerjaan formula matematika

Base Database aplikasi untuk membuat database


2. FreeOffice
Software ini dikembangkan oleh perusahaan bernama SoftMaker FreeOffice, perangkat ini hanya memiliki 3 fitur perangkat lunak perkantoran yaitu Textmaker sebagai pengganti Ms.Word, PlanMaker sebagai pengganti Ms.Excel, kemudian Presentations sebagai pengganti Ms.Powerpoint.
dari pengalaman pribadi saya lebih nyaman menggunakan software ini karena dari menu tampilan sangat mirip dengan produk Ms.Office sehingga saya merasa lebih familiar menggunakan perangkat ini. kekurangannya saat membuka beberapa dokumen dari Ms.Office ada yang tidak bisa dibuka atau acak-acakan, saya sangat memaklumi hal ini karena kedua software ini FreeOffice dan MicrosoftOffice dikembangkan oleh perusahaan yang berdeda, lha wong MicrosoftOffice saja yang berbeda versi misalnya dokumen dibuat dari Office2007 kemudian dibuka dengan Office2013 hasilnya bisa acak-acakan apalagi dibuka dengan software buatan perusahaan lain.


3.WPS Office
perangkat lunak ini merupakan akronim dari kata Word, Presentation, Spreadsheet yang disingkat menjadi WPS office, jadi sudah pasti bisa ditebak perangkat ini hanya memilki fitur aplikasi yaitu pengganti Ms.Word, Ms.Powerpoint, Ms.Excel mungkin bagi pengguna smartphone sudah tidak asing dengan nama ini karena sudah banyak diinstal di banyak perangkat smartphone di dunia. dari pengalaman pribadi saya tidak merekomendasi software ini karena yang pertama tampilan kurang familiar kemudian yang kedua software ini sangat berat apalagi ketika komputer atau laptop kita terhubung dengan internet, karena ketika kita menginstal ada peraturan yang memungkinkan software ini dipasangi oleh iklan dan juga saya tidak tahu apa saja yang dikerjakan software ini sehingga laptop saya menjadi sangat berat.


dari berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan FreeOffice sebagai perangkat lunak perkantoran hingga saat ini. demikian sedikit review dari saya yang berdasarkan pengalaman pribadi menggunakan ketiga software tersebut, semoga bermanfaat, tengkyu...

Free Open Source Software (FOSS) Adalah Koentji

S O N I 10:14 PM 0

dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh BSA(The Software Alliance) sebuah aliansi yang didirikan oleh para perusahaan pengembang perangkat lunak yang bertujuan untuk menghentikan praktek-praktek pembajakan software untuk pemakaian ilegal dan melanggar hak cipta dari perangkat lunak yang di produksi oleh anggotanya, mengungkapkan bahwa pada tahun 2017 penggunaan perangkat lunak ilegal di dunia rata-rata sebesar 57%, sedangkan presentase di Indonesia sendiri 83% nya adalah ilegal atau bajakan dan sudah pasti melanggar hak cipta.

jika dilihat dari sisi hukum jelas ini pelanggaran dan tidak dibenarkan karena di dalam setiap software yang dibuat, sebuah perusahaan telah mengeluarkan banyak biaya dan waktu yang panjang untuk proses pembuatan dan pengembangan, bisa berupa gaji pegawai, sarana dan prasarana yang digunakan dll.

kemudian jika ditelusuri mengapa banyak sekali praktek ilegal pembajakan perangkat lunak,  alasannya adalah karena perangkat lunak tersebut berbayar, bukan karena tidak mampu untuk membeli tapi hanya saja tidak mau untuk membeli, kemudian juga ketidaktahuan pengguna komputer bahwa perangkat lunak yang dipakai sebenarnya adalah ilegal. saya pernah bincang-bincang dengan teman yang tidak tahu bahwa software komputer itu berbayar, yang dia tahu dia sudah membayar untuk membeli perangkat komputer, dan ketika menginstal sebuah software dan mendapat perintah untuk memasukkan sebuah serial code, yang dia pahami adalah serial code itu tidak bermakna apapun hanya sebuah proses untuk pemasangan perangkat lunak pada komputer. maka dari itu diperlukan kampanye-kampanye pemahaman tentang lisensi sebuah software yang digunakan pada komputer.
berbicara masalah lisensi ada banyak jenis lisensi yang digunakan oleh sebuah perangkat lunak yang sedang rilis, berikut adalah jenis-jenisnya:

1. lisensi Commercial
adalah lisensi pada sebuah software yang tujuannya adalah untuk dijual dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya atau komersil yang pastinya software ini berbayar dan tidak gratis. contohnya adalah sistem operasi Microsoft Windows, software multimedia seperti Adobe Photoshop, Premiere, After Effect, software perkantoran Microsoft Office dll.
2. lisensi Trial
adalah lisensi pada sebuah software commercial yang masih dalam kondisi trial atau masa uji coba dalam jangka waktu tertentu, jadi seorang pelanggan bisa melakukan uji coba terlebih dahulu atau menggunakan secara gratis sebuah software sebelum memastikan untuk membeli atau tidak, ibarat biar tidak membeli kucing dalam karung.
3. lisensi Shareware
adalah sebuah lisensi yang dikeluarkan sebuah perusahaan software komersil atau berbayar dengan versi gratis bersyarat, biasanya ada beberapa fitur yang dikurangi ada juga dengan syarat hasil karya yang dihasilkan tidak boleh dijual atau untuk perorangan saja, dan ada juga hasil karya yang dihasilkan terdapat sebuah watermark dari software tersebut. biasanya sebuah perusahaan mengeluarkan 2 versi, pertama berbayar full fitur kedua gratis bersyarat contohnya software edit video lightworks, DaVinci Resolve
4. lisensi Freeware
adalah sebuah lisensi yang penggunaan sebuah software gratis tidak berbayar, dengan fitur yang benar-benar lengkap. contohnya browser Mozilla Firefox, Google Chrome
5. Open Source
adalah sebuah software yang sumber kodenya terbuka untuk umum, sumber kodenya bisa di modifikasi, diubah, dikembangkan oleh siapapun, ibarat membeli sebuah sepeda motor jika pada lisensi Commercial anda dilarang untuk memodifikasi, mengembangkan, dan yang boleh menservise adalah dealer resminya, maka pada Open Source anda diberikan sumber kodenya atau  cetak birunya, bebas memodifikasi, mengembangkan. contohnya adalah sistem operasi Linux, software kantor LibreOffice, software 3D Blender, mikrokontroler Arduino dll.

nah, setelah tahu tentang beberapa lisensi pada software, maka kuncinya adalah penggunaan perangkat lunak Free dan Open Source sebagai solusi untuk mengurangi presentase pembajakan software ilegal yang marak di Indonesia. sebenarnya, selain masalah hukum software bajakan lebih rentan terhadap serangan siber seperti virus, malware, ransomware, dll. meskipun tidak menutup kemungkinan software yang sudah dibeli secara resmi terhindar dari serangan, namun perusahaan software resmi biasanya memberikan suport atau dukungan pada pelanggannya.