#DompetKeringMemanggil : Pecinta Mie Ayam Seluruh Dunia Bersatulah!...

S O N I 7:49 AM



Doyok Bendrat mahasiswa semester 13,5 sedang menyantap makanan primer favoritnya "Mie Ayam Mbah Yai", dengan mimik muka serius seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Ini tidak bisa dibiarkan, Mie Ayam tidak boleh jatuh ketangan kapitalis" ucap Doyok Bendrat menuangkan kegelisahannya.

"Maksudmu apa to Mas Yok?" Balas Kasino Obeng mahasiswa semester 7,5 adik angkatan Doyok yang sekarang menjadi sohib seperjuangan dalam mengerjakan skripsi.

"Kamu tau warung burjo? padahal sekarang banyak warung burjo gak jualan burjo lagi, melainkan indomi. Ini adalah konspirasi yang terstruktur, masif dan sistematis".

"Ndak paham aku Mas".

"Coba bayangkan, biasanya kamu beli Es Burjo seharga 3500 itu perutmu kenyang dan menyegarkan tenggorokanmu. Nah, sekarang menu burjo sudah gak ada, kamu harus beli indomi plus telor seharga 6000 perut belum kenyang kamu harus nambah nasi seharga 2000 kemudian tenggorokanmu seret kamu perlu minuman es teh 3000. Sekarang total kamu harus bayar 11000. Ini sungguh tidak dompet friendly".

Kasino Obeng hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil menikmati Mie Ayam serta mencoba memahami argumen yang diucapkan Doyok Bendrat.

"Oke contoh lainnya. Semula ngopi di warkop seharga 3000 rupiah adalah hal yang lumrah, namun semenjak kaum indie mempopulerkan senja, kopi, dan foto berwarna jingga yang instagramable, mau gak mau manusia-manusia latah ini perlahan meninggalkan warkop kemudian beralih ke kafe-kafe yang kalo kamu lihat harga di daftar menu membuat dompetmu merasa muak".

"Ketika menyeduh kopi saset dikosan adalah sebuah aib itu saja sudah bikin bulu kuduk bergidik, bagaimana tidak? ketika kamu ketahuan nyeduh kopi saset yang cuma seharga 1500 per saset, maka ganjarannya adalah kamu bakal dirisak habis-habisan sama manusia sok ahli kopi kemudian sok memberikan pencerahan, semacam teori-teori bahwa minum kopi saset adalah sebuah dosa besar, dan yang benar adalah kamu harus minum kopi dengan cara kopi bean yang digiling manual, setiap takaran harus ditimbang, suhu air panas harus sesuai termometer yang sudah dirumuskan dan tentu saja haram hukumnya menambahkan gula, ah...sejak kapan minum kopi harus seribet menyelesaikan soal matematika"

"Terus apa hubungannya dengan Mie Ayam, Mas Yok?"

"Satu-satunya makanan kebanggaan mahasiswa berdompet kering seperti kita yang masih mungkin untuk dipertahakan adalah Mie Ayam, Mie Ayam masih menjadi alat pemersatu bangsa, ketika selera minum kopi saja bisa memecah belah bangsa ini".

"Terus cara menyelamatkan gimana, Mas?"

"Aku punya rencana, mula-mula Aku nanti membuat fanbase Pecinta Mie Ayam dalam beberapa akun sosial media, kemudian aku juga berencana membuat sebuah sistem perangkingan warung-warung Mie Ayam berbasis aplikasi Android yang bisa disortir berdasarkan harga dan ulasan dari para pelanggan yang pernah datang ke warung tersebut. Nanti aplikasi tersebut Aku namai Mie Ayam Underground Global Scouting System disingkat MAU BALSEM. Ketika pecinta mie ayam seluruh dunia bersatu, tak terkalahkan!!!"

"Betul Mas Yok, kita harus menyelamatkan Mie Ayam dari kapitalis. Tapi sampeyan lupa satu hal yang lebih mendesak dan ini bisa mempengaruhi masa depan, ini lebih penting dari menyelamatkan Mie Ayam"

"Apa itu Kas?"

"Hidup sampeyang sekarang itu tinggal setengah semester Mas, skripsimu garapen, terus sampeyan kelihatannya belum punya pendamping wisuda, hahaha..."

"Ealah... Telo kowe Kas!"

Artikel Terkait

Previous
Next Post »