Di Hari Ulang Tahun Mbah Nini

S O N I 6:05 AM
Mbah Ni terlihat tersenyum tipis dan matanya berkaca-kaca memandangi foto jadul diatas meja, bersebelahan dengan sepotong kue dan secangkir kopi milik anak laki-lakinya yang sedang bersiap-siap untuk mengajar di sebuah sekolah luar kota. Dalam  foto itu nampak Mbah Ni ketika seusia ibu muda menggandeng tangan kedua anaknya yang masih kecil dipotret sekitar tahun ’90an. Ia masih tak percaya waktu bergulir begitu cepat, di usianya sudah sepantasnya di panggil Nenek dan anak-anaknya sekarang sudah besar.

Beberapa waktu yang lalu Mbah Ni memutuskan pensiun dari pekerjaannya sebagai pedagang dan menutup toko miliknya yang sudah dikelola lebih dari 30 tahun. Menurut beberapa cerita, Mbah Ni muda adalah seorang wanita pekerja keras sama seperti wanita desa pada umumnya yang juga ikut bekerja disawah sebagai buruh tani, namun bedanya Mbah Ni memiliki keinginan untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi, meskipun banyak orang mencibir dan mustahil untuk diwujudkan. Tak ada yang tahu alasan kenapa Mbah Ni sangat bertekad untuk menyekolahkan kedua anaknya hingga sarjana.

*****


Mbah Ni adalah orang yang memang berkarakter tidak bisa berdiam diri. Untuk mengisi waktu luang dalam masa pensiunnya agar tidak bosan, Mbah Ni mulai membuat sebuah catatan daftar kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.

Belajar mengoperasikan ponsel cerdas Android. Akhir-akhir ini Mbah Ni sangat bersemangat untuk belajar bagaimana caranya menggunakan aplikasi WhatsApp untuk sekedar Video Call dengan cucu-cucunya.

Jadwal memasak. Selain belajar Video Call, Mbah Ni juga belajar mencari kemudian mencatat resep resep makanan yang ia temukan dalam perangkat ponsel cerdas miliknya. Sebagai referensi untuk memperkaya daftar jadwal memasak.

Daftar belanja. Sampo, sabun, odol, perlengkapan mandi lainnya, kopi, teh, cemilan dan daftar kebutuhan lainnya sudah mulai bisa diprediksi oleh Mbah Ni kapan bahan bahan tersebut bakal habis.

Mengumpulkan uang receh. Setelah tidak lagi bekerja, Mbah Ni mulai banyak menghabiskan waktu untuk bersih-bersih rumah. Biasanya banyak ditemukan uang receh yang tersembunyi dan tergeletak, kemudian Mbah Ni mengumpulkan dalam satu wadah sebuah kaleng bekas biskuit.

Berolahraga. Setiap bangun pagi setelah sholat subuh, Mbah Ni menyempatkan diri untuk berolahraga, jalan pelan beberapa meter bolak-balik didepan rumah. Kemudian lanjut memutar VCD player berisi video tutorial senam yang dibelikan oleh anak perempuannya yang bekerja sebagai perawat di luar kota. Mbah Ni menirukan gerakan-gerakan instruktur senam tersebut hingga merasa cukup lelah kemudian istirahat.


*****

Anak laki-lakinya sedang bersiap-siap. Sebelum berangkat bekerja,  ia berbicara pada Mbah Ni yang masih memandangi foto lawas kenangan keluarganya.

"Maaf Mak, selama ini saya menjadi beban Emak yang bekerja siang malam. Hanya untuk menyekolahkan kami hingga sarjana. Hingga Emak tidak sempat untuk berdandan, membeli perhiasan seperti ibu-ibu yang lain. Saya ingin bertanya sesuatu Mak, Emak sekarang sudah pensiun, kalau boleh tahu, di hari ulang tahun Emak ini, apakah harapan Emak yang ingin dicapai, atau keinginan terpendam Emak yang belum sempat untuk diwujudkan karena dulu masih mempunyai tanggungan membesarkan Saya dan Mbak Yu. Saya sama Mbak Yu sekarang sudah bekerja, siapa tahu, mungkin bisa mewujudkan sedikit keinginan Emak"

Mendengar perkataan anak laki-lakinya, membuat air mata Mbah Ni mengalir deras. Dadanya sesak. Sejenak bibirnya bergetar tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, kemudian menyerahkan foto yang dipegangnya kepada anak laki-lakinya.

"Sudah kabul nak...harapan Emak sudah kabul...Emak tak pernah mengira mendapat pertanyaan seperti itu. Emak bahagia...Emak bahagia...lihatlah dibalik foto itu. Orang paling bahagia adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, sekarang Emak bisa pensiun dengan tenang"

Laki-laki itu membalik foto dan menemukan tulisan.

"perawat"

"guru"

Artikel Terkait

Previous
Next Post »