Pengertian Instalasi Penerangan 3 Fasa

S O N I 12:21 PM 0

 



Instalasi Penerangan 3 Fasa

1.    Acuan

Agar terselenggaranya segala bentuk instalasi yang baik dari berbagai seluk beluk yang menyangkut keamanan instalasi, penempatan instalasi dan juga perlengkapan serta bahaya-bahaya yang mungkin terjadi, maka sangat penting suatu acuan guna mendapat apa yang diinginkan dimana acuan tersebut dapat berupa:

a.    Gambar -gambar simbol instalasi listrik.

b.    Cara penyambungan penghantar kedalam suatu komponen instalasi listrik.

c.    Pengenalan kode, tanda uji, warna dan segala bentuk penandaan suatu komponen listrik.

d.   Mengerti fungsi masing- masing komponen alat ukur yang digunakan.

e.    Mengerti mengenai perbedaan perhitungan dengan pengukuran.

Hal tersebut diatas tidak terlepas dari tujuan, standarisasi instalasi listrik yang berfungsi untuk keseragaman dalam bentuk atau ukuran, menggambar, cara kerja dan juga mutu bahan. Bahkan dalam peraturan instalasi listrik yang baik dan benar mengenai peralatan, kesalahan manusia dan gedung di aplikasikan pada tempat yang sebenarnya, disana juga dituntut bahwa instalasi penerangan harus memenuhi prinsip- prinsip dasar, yaitu :

a.     Keandalan.

b.    Ketertiban.

c.     Ketersediaan.

d.    Keindahan.

e.     Keamanan.

f.      Ekonomis.

2.    Syarat-Syarat Instalasi Listrik

a.    Syarat ekonomis

Instalsi listrik harus dibuat sedemikian rupa sehingga harga keseluruhan dari instalasi itu, ongkos pemasangan dan ongkos pemeliharaannya semurah mungkin.

b.    Syarat keamanan


Instalasi listrik harus dibuat sedemikian rupa sehingga kemungkinan timbul kecelakaan sangat kecil. Aman dalam hal ini berarti tidak membahayakan jiwa manusia dan terjaminnya peralatan dan benda-benda di sekitarnya dari kerusakan akibat adanya gangguan seperti hubung pendek, beban lebih, tegangan lebih dan sebagainya.

c.    Syarat keandalan

Kelangsungan pemberian / pengaliran arus listrik kepada konsumen harus terjamin secara baik.

 

 

3.    Ketentuan rancangan instalasi listrik

Rancangan instalasi listrik ialah berkas gambar rancangan dan uraian teknik, yang digunakan sebagai pedoman untuk melaksanakan pemasangan suatu instalasi listrik. Rancangan instalasi listrik harus dibuat dengan jelas, serta mudah dibaca dan dipahami oleh para teknisi listrik. Untuk itu harus diikuti ketentuan dan standar yang berlaku.

Rancangan instalasi listrik terdiri dari :

1.  Gambar situasi, yang menunjukkan dengan jelas letak gedung atau bangunan tempat instalasi tersebut akan dipasang dan rancangan penyambungannya dengan sumber tenaga listrik.

2.  Gambar instalasi yang meliputi:

a.     Rancangan tata letak yang menunjukkan dengan jelas letak perlengkapan listrik beserta sarana kendalinya (pelayanannya), seperti titik lampu, kotak kontak, sakelar, motor listrik, PHB dan lain-lain.

b.     Rancangan hubungan perlengkapan listrik dengan gawai pengendalinya seperti hubungan lampu dengan sakelarnya, motor dengan pengasutnya, dan dengan gawai pengatur kecepatannya, yang merupakan bagian dari sirkit akhir atau cabang sirkit akhir.

c.      Gambar hubungan antara bagian sirkit akhir tersebut dalam butir b) dan PHB yang bersangkutan, ataupun pemberian tanda dan keterangan yang jelas mengenai hubungan tersebut.

d.     Tanda ataupun keterangan yang jelas mengenai setiap perlengkapan listrik.

3.  Diagram garis tunggal, yang meliputi :

a.     Diagram PHB lengkap dengan keterangan mengenai ukuran dan besaran pengenal komponennya;

b.     Keterangan mengenai jenis dan besar beban yang terpasang dan pembagiannya;

c.      Sistem pembumian dengan mengacu kepada 3.18;

d.     Ukuran dan jenis penghantar yang dipakai.

4.  Gambar rinci yang meliputi :

a.     Perkiraan ukuran fisik PHB;


b.     Cara pemasangan perlengkapan listrik;

c.      Cara pemasangan kabel;

d.     Cara kerja instalasi kendali.

e.     Catatan gambar rinci dapat juga diganti dan atau dilengkapi dengan keterangan atau uraian.

5.  Perhitungan teknis bila dianggap perlu, yang meliputi antara lain :

a.     Susut tegangan;

b.     Perbaikan faktor daya;

c.      Beban terpasang dan kebutuhan maksimum;

d.     Arus hubung pendek dan daya hubung pendek;

e.     Tingkat penerangan.

6.  Tabel bahan instalasi, yang meliputi :

a.     Jumlah dan jenis kabel, penghantar dan perlengkapan;

b.     Jumlah dan jenis perlengkapan bantu;

c.      Jumlah dan jenis PHB;

d.     Jumlah dan jenis luminer lampu.

7.  Uraian teknis, yang meliputi :

a.     Ketentuan tentang sistem proteksi dengan mengacu kepada 3.17;

b.     Ketentuan teknis perlengkapan listrik yang dipasang dan cara pemasangannya;

c.      Cara pengujian;

d.     Jadwal waktu pelaksanaan.

8.  Perkiraan biaya



sumber : quantumbook

Pengertian Instalasi Tenaga 3 Fasa

S O N I 12:18 PM 0

 

 


Mengapa Ada Sistem 3 phase?

Selain ekonomis sistem 3 fasa dikembangkan karena memiliki keunggulan yaitu daya yang ditransmisikan bisa lebih besar dibanding sistem 1 fasa dengan besar penghantar dan arus listrik yang sama. Karena itu mulai dari pembangkitan sampai distribusi, sistem 3 fasa ini digunakan.

Pada motor listrik, sistem 3 fasa memberikan daya torsi motor yang lebih besar dibandingkan dengan motor 1 fasa. Dengan medan magnet berputar yang dihasilkan sistem 3 fasa dengan arah dan besaran konstan yang disederhanakan, maka akan menyederhanakan desain atau konstruksi motor listrik.

1.          Pengertian 1 Fasa

Tegangan 1 fasa adalah instalasi listrik yang menggunakan dua kabel penghantar yaitu 1 kabel di fungsikan sebagai fasa dan 1 kabel lagi di fungsikan sebagai netral.

Di Indonesia, sistem 1 fasa ini mempunyai tegangan 220VAC. Sedangkan di berbagai negara, besar tegangan 1 fasa ini bervariasi.

Instalasi listrik 1 fasa adalah instalasi listrik yang menggunakan dua kawat penghantar yaitu kawat fasa dan kawat netral. Listrik 1 fasa di Indonesia bertegangan 220 volt. Dengan tegangan 220 volt, listrik 1 fasa banyak digunakan di rumah penduduk.

a.        Kelebihan jaringan listrik 1 fasa:

1)      Murah biaya operasional

2)      Mudah instalasinya karena menggunakan 2 kawat

b.       Kekurangan:

1)      Terbatas skala rumah tangga

2)      Generator 1 fasa memiliki ukuran relatif besar

2.       Pengertian 3 Fasa

Untuk memenuhi kebutuhan dalam suplai daya listrik, sistem 1 fasa dikembangkan menjadi 3 fasa. Sistem ini menggunakan 3 gelombang sinusoidal yang mempunyai perbedaan sudut phase masing-masing 120 derajat.

Gambar gelombang listrik 3 fasa.



 

Gambar Gelombang sinusoidal 3 fasa

https://infopromodiskon.com

Listrik 3 fasa menggunakan 3 penghantar dan mempunyai tegangan sama tetapi berbeda dalam sudut fasa sebesar 120⁰.

Listrik 3 fasa adalah instalasi listrik yang menggunakan tiga kawat fasa, satu kawat netral atau kawat ground. Tegangannya 380 volt dan banyak digunakan pada industri, pabrik, hotel dan tempat-tempat yang membutuhkan daya besar.

a.        Kelebihan:

1)      Konstruksi sangat kuat dan sederhana terutama bila motor dengan rotor sangkar

2)      Harga relatif murah untuk industri dan kehandalannya tinggi

3)      Efisiensi relatif tinggi pada keadaan normal dan tidak ada sikat sehingga rugi gesekan kecil

4)      Biaya pemeliharaan rendah dan mudah dalam perawatan

5)      Dapat diproduksi sesuai dengan kebutuhan.

6)      Menyediakan daya listrik yang besar karena menggunakan tegangan yang lebih tinggi, maka arus yang akan mengalir akan lebih rendah untuk daya yang sama. Sehingga untuk daya yang besar, kabel yang digunakan bisa lebih kecil sehingga lebih hemat biaya kabel. Untuk motor induksi yang memerlukan daya besar, listrik 3 fasa tidak memerlukan kapasitor lagi untuk menggerakan motor.

b.       Kekurangan :

1)      Biaya operasional mahal.

 

B.         Hubungan penyambungan 3 fasa

Di dalam instalasi tenaga yang saling terhubung antara komponen dan sumber tentunya kita perlukan sambungan. Pada instalasi tenaga listrik 3 fasa bisa digunakan 2 macam hubungan dalam penyambungan dengan 3 penghantar, yaitu:

1.       Hubungan Bintang atau star



 

Sistem 3 fasa hubungan bintang dengan tegangan 380/220 V

Gambar diatas merupakan sistem 3 fasa yang dihubungkan secara bintang. Titik pertemuan dari masing masing fasa disebut titik netral. Titik netral ini merupakan common dan tidak bertegangan.

Ada 2 macam tegangan listrik yang dikenal dalam sistem 3 fasa ini:

a.     Tegangan antar fasa yaitu 380 V

b.     Tegangan fasa ke netral yaitu 220 V

Dengan adanya titik netral maka besar tegangan fasa terhadap netral membentuk sistem tegangan 3 fasa yang seimbang.

V line = √3 x V fasa = 1,73 V fasa

Sedangkan untuk arus yang mengalir pada semua fasa mempunyai nilai yang sama:

I line = I fasa

2.       Hubungan segitiga atau delta

Pada hubungan segitiga, ketiga fasa saling dihubungkan sehingga membentuk hubungan segitiga 3 fasa.


 

Gambar Hubungan Segitiga


Dengan tidak adanya titik netral, maka besarnya tegangan saluran dihitung antar fasa, karena tegangan saluran dan tegangan fasa mempunyai besar magnitude yang sama, maka:

V line = V fasa

Arus saluran dan arus fasa tidak sama dan hubungan antara kedua arus tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan hukum Kirchoff:

I line = √3 x I fasa = 1,73 I fasa


Sumber : Quantumbook

Desain PCB Line Follower Analog

S O N I 8:55 AM 0

 




Robot Line Follower adalah sebuah robot mobile yang bergerak mengikuti garis, untuk jenis line follower analog bekerja berdasarkan komparator dari komponen Op Amp yang membandingkan tegangan input dengan tegangan referensi sebagai sinyal untuk keluaran logika yang diteruskan ke driver motor. sedangkan untuk line follower digital adalah robot yang menggunakan sinyal digital yang terprogram pada IC mikrokontroler.

berikut adalah desain PCB line follower analog menggunakan sensor photodioda, komparator IC Op Amp LM324, dan driver motor menggunakan MOSFET IRF630 sepasang dengan IRF9630



dibawah ini adalah video hasil dari desain PCB diatas